Sabtu, 15 Juni 2013

masih Sambungan '' Suntikan Folio"

ada yang bermain ibu ibuan dan yang menjadi ibunya adalah si didit (semua bisa bayangkan bagaimana na'jisnya si didit itu) .

  Setelah berapa menit berlalu semua masih asyik bermain dan hingga tiba saatnya ibu guru pun datang bersama seseorang yang memakai jas berwarna putih dengan membawa peralatan-peralatan yang gue gak tau itu apa. (dan seketika itu suasana kelas menjadi sepi setelah melihat pria yang bersama ibu guru itu).
  Karena kami semua penasaran dengan pria itu, akhirnya murid sebelah bangku gue yang rada-rada begok pun bertanya, buk itu siapa?
  " ini dokter yat "(kata ibu guru)
" buat apa dokter buk,kan kami semua gak ada yang sakit?" (saut rodiyah yang hoby makan kembang) 
 " kan sekarang ada penyuntikan folio anak-anak  " ( kata ibu guru )
 " apa ? ini gak mimpi kan buk ,oh tidaaaaaaaaaak !!!!! saut gue "
 " gak ini beneran nak,soalnya SD sebelah udah ada yang terjangkit " 
  " oh begitu buk ! kata gue " (dengan tampang pucat dan berharap semoga ini mimpi )
         setelah sesi pertanyaan telah habis akhirnya tiba juga saatnya untuk melakukan penyuntikan
dengan  memanggil murid dari absen pertama secara satu persatu untuk di suntik sedangkan yang lain di suruh keluar.
     dan gue pun masih tidak percaya kalo ini kenyataan ! sebab gue gak bisa bayangin bagaimana rasanya di suntik , apalagi entar kalo dokter itu salah suntik terus gue jadi korban malaprakteknya gimana , oh tidakkk .!! sejak itu gue langsung down,gue panik,gue gak nyangka secepat ini gue di uji, dan gue berharap semoga bel pulang cepat berbunyi karena bel itulah yang bisa menyelamatkan gue.
      tetapi bel pun tak kunjung berbunyi yang ada suara jeritan dari dalam kelas gue, gue pun semakin  SYOK mendengar jeritan itu dan kembali terlintas dalam pikiran gue kalo jarum yang di pakai itu segede paku payung (bisa di bayangin bagaimana  pantat gue kalo di suntik dengan jarum segede itu) .
  sekarang gue hanya bisa meratapi ujian gue ini,gue mau nangis sekencang kencangnya tapi gue takut entar temen-temen gue nyangka kalo gue ini banci , gue hina banget! gue gak mau di katain seperti itu walaupun mata gue sudah mau ngeluarin air,tapi gue tetap bertahan dan gue harus bertahan,iya gue harus bertahan  !!! .   tak terasa nomer absen sudah berada pada urutan 28 dan tinggal 2 nomer absen lagi baru nomer absen gue yaitu nomer 31, gue mencoba untuk tetap tenang setenang mungkin sembari mendengar nomer absen selanjutnya, dan ternyata nomer absen sudah berada pada urutan 30 . berarti satu langkah lagi gue akan masuk kedalam ruangan yang sangat sangat mengerikan itu , sambil menunggu nomer absen 30 itu keluar aku berdoa untuk bisa menjalani ujiaan yang menuru gue sangat berat ini dan ini doanya :
 “YA ALLAH KUATKANLAH HAMBAMU INI DI DALAM RUANGAN ITU NANTI DAN JAUHKAN LAH HAMBAMU INI DARI SUNTIKAN YANG SEGEDE PAKU PAYUNG ITU DAN JAUHKANLAH HAMBA DARI KORBAN MALAPRAKTEK DOKTER ITU ,AMIN “ 
    setelah selesai berdoa akhirnya teman gue keluar dan sekarang tinggal giliran gue yang masuk. Gue melangkahkan kaki secara perlahan lahan sambil menatap sang dokter (yang gue liyat tampangnya itu seperti OGOH-OGOH) dan tibalah gue di kursi tempat korban-korban dari sang dokter tersebut . 
     sang dokter pun bertanya kepada gue "namanya siapa dek ? " (dengan nadanya yg manja)
     " nnnnaaamma saayya rrroooby dok" (nada gemetaran) 
     " oh 'Roby ' ,roby dokter suntik sedikit ya,supaya gak kena penyakit? (kata dokter sambil memegang kepala gue ) 
   "  (gue mengangguk) yang berarti gue mengIyakan perintah dokter tersebut .
 dan akhirnya dokter itu pun mengambil suntikannya untuk menyuntikan ke arah pantat gue, gue hanya bisa terdiam dan merelakan pantat gue itu untuk di suntik pada waktu itu .
dokter itu berkata "di tahan ya roby,ini gak sakit ko" sambil mengoleskan pantat gue dengan obat bius.
   setelah di oles oles akhirnya dia memasukan jarum suntik yang gue gak tau ukurannya seperti apa karena gue menutup mata. 
 Setelah beberapa detik kemudian dokter pun berkata “udah rob sekarang celananya di naikin karena di suntiknya udah selesai dan ini permen alpenibe buat kamu “ 
 " makasi dokter " kata gue sambil berjalan kearah luar dengan tampang sangat ceria sembari berfikir bahwa gue bukan korban malapraktek dan setiba gue di luar akhirnya bel pulang pun telah berkumandang.
 gue dan teman-teman pun menyambut hal ini dengan gembira dan kami pulang dengan hati yang cukup tenang.

SEKIAN .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar